kutipanku

Friday, December 08, 2006

POLIGAMI

koran

"Dai kondang Aa Gym kawin lagi..!"Ibu-ibu rumah tangga yang lagi ngrumpi di sudut gang kampung.
Masalah poligami yang dilakukan Aa Gym, akhirnya menjadi isu nasional yang menarik. Saking menariknya, presiden SBY ikut ribut, sampai mengajak rapat menterinya membahas masalah poligami.
Di koran-koran, di dalam radio, diatas bintang, (kaya' lagunya SWAMI aja), semua bikin topik poligami, dissamping kisah vidio porno si ME dan YZ.

Saya sangat tertarik tulisan A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudhotul Talibin,Rembang, di halaman opini Jawa Pos, jumat, 8 Desember 2006. Sebuah gaya tulisan yang jarang sekali ada di kolom opini
(sepengetahuan saya). Gaya tulisan yang seluruh narasinya atau ide cerita semua berbentuk dialog kalimat aktif. Bersetting diskusi pesantren yang ringan tapi membawa pesan.

Pada awal paragraf dia menulis aktivitas dialog semua tokoh, yaitu kang Kimin; Kang Zaini; Haji Arifin; Kang Slamet; kang Mansur; Mas Guru Manaf; si Duldan bahkan Mbah Paimin dan Gus Mad. Mereka semua adalh "aktivis"jamaah pengajian.

Tokoh yang disebut teakhir, Gus Mad, yang saya dapat dari sumber koran lokal jatim adalah seorang Kyai dari Pasuruan yang beristri empat bahkan lima, satu dicerai. Ia mempunyai keturunan 41 anak..!! Dan mereka hidup cukup bahagia.

Pembicaraan diawali oleh Kang Slamet, "wah, kasian ya Aa' Gym ya, mau itibaa', mengikuti jejak Nabi malah dihujat jamaahnya." Itu adalah awal sebuah "diskusi" para penghuni yang lagi pada kumpul membicarakan tentang sosok Aa' Gym, yang kesemua itu menjadi gaya penulisan A. Mustofa Bisri.

Pesan-pesan tulisan itu sangat mengena sekali, karena pembicaraannya ringan dan mudah dicerna, karena memang sangat dekat dengan pola hidup kita. Dimulai dari kerelaan Teteh Nining dimadu dan rasa kasihan pada ibu-ibu yang mengidolakan sosok Aa'. Disebutkan juga pembanding antara Aa' Gym dengan tokoh penganut poligami yang lain, seperti mubaliq sejuta umat KH Zainudin MZ, aktivis gender Masdar Mas'ud, bahkan kiai Nur Muhammat Iskandar dan petinggi PPP Hamzah Hazz.
Dari kesemua tokoh tersebut belum ada yang dihujat atau banyak dibicarakan publik. Tapi kenapa sosok Aa' Gym jadi dahsyat dimata pubik maupun pemerintah.

Gus Mad mencoba angkat bicara. "Mungkin Aa' Gym lain, dia itu tokoh publick figure sebenarnya, dai tidak hanya mubalig tapi juga sekaligus selebritis. Aa' adalah gabungan antara Zainudin MZ dan Iwan Fals." Oleh karena itu para ibu-ibu di Indonesia yang mengidolakan sangat kecewa. Boleh jadi dalam pandangan ibu-ibu, Aa' mrupakan tokoh idola yang paling sempurna yang tidak ada cacatnya. Aa' sudah dianggap semacam berhala. terhadap "berhala" pandangan tidak ada cacat bisa menjadi tidak boleh cacat.

Dan umumnya para ibu-ibu, menganggap kawin lagi adalah cacat. Minimal mengurangi kesempurnaan tokoh suami. Maka ketika Aa' Gym kawin lagi, para idolanya kecewa. Meskipun poligami itu halal Tapi ada juga yang mengharamkan.

Bincang-bincang diatas adalah bagian dari "diskusi" yang sangat seru. Ada yang menolak juga ada yang membela ada juga yang nggak tahu sama sekali.

Suasana berubah ketika jamaah senior angkat bicara, Kang Kimin. Dia memberi nasihat, kenapa harus geger dengan kejadian semua ini, ribut ngebahas kawin orang. Kenapa kita tidak ribut menyelasaikan masalah bangsa yang lain yang lebih mendesak, seperti lumpur Lapindo dan yang lainnya.

Dari sinilah pesan yang ingin di sampaikan oleh A. Mustofa Bisri, dengan bahasa yang naratif, bahwa sesunggunya persoaalan bangsa ini tidak mempunyai skala prioritas yang jelas. Yang akhirnya menjadi kemana mana. Persoalan tersebut tidak kunjung selesai.

Diakhir "diskusi" tersebut ditutup oleh Gus Mad. "Mari kita tutup pembicaraan inidengan membaca Al-Fatihah, semoga Allah mengasiani dan merahmati kita bangsa Indonesia, terutam yang kita kasiani. Al-Fatihaaaah."



A. Mustofa Bisri adalah, kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, beristrikan Siti Fatima yang menghasilkan 7 anak . Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home